Home » , , » Beda Pendapat Bukan Hal Baru Dalam Islam

Beda Pendapat Bukan Hal Baru Dalam Islam

Munculnya perbedaan pendapat dalam pengamalan ibadah dengan sama-sama berpatokan pada dalil yang kuat, ternyata sudah terjadi sejak zaman dahulu. Namun, yang penting adalah bagaimana umat Islam bisa saling menghormati antara pengikut satu mazhab dengan mazhab lainnya, bukan saling mencela.

“Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing. 

Jauh sebelum masa kini, perselisihan di antara para sahabat nabi juga sudah terjadi. Bahkan, meski sama-sama hidup semasa dengan Nabi Muhammad SAW, tapi mereka kerap ada perselisihan paham. Seperti yang terjadi antara Abu Bakar As-Siddiq dengan Umar bin Khattab.

Perbedaan pendapat (ikhtilaf) berbeda dengan perpecahan (iftiraq). Sebab, perbedaan pendapat tidak selalu berujung jadi perpecahan, meskipun setiap perpecahan berakibat dari adanya perbedaan. Perbedaan pendapat tidak dilarang dan bukan sesuatu yang tercela dalam Islam.

Perbedaan pendapat banyak terjadi di kalangan para sahabat, termasuk di antara empat imam mazhab. Namun perbedaan di antara mereka tidak menjadikan runtuhnya ukhuwah Islamiyah. Tapi yang dilarang dan tercela dalam Islam adalah perpecahan (iftiraq).

Para ulama dalam mengemukakan pendapat, terutama yang diakui secara luas keilmuannya, mampu menunjukkan kedewasaan sikap dan toleransi yang tinggi. Mereka tetap mendudukkan pendapatnya di bawah Alquran dan hadis dan tidak memaksakan pendapat, serta selalu siap menerima kebenaran dari siapapun.

Para ulama terdahulu tidak pernah memposisikan pendapat mereka paling absah sehingga wajib diikuti, dan menolak pendapat lain yang dianggap bertentangan dengan agama. Bahkan Imam Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar”.


Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA 
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh
Harian Serambi Indonesia, Jum'at, 11 September 2015

Lencana Facebook